Diberdayakan oleh Blogger.

Menata Hati Kita

>> Selasa, 15 Maret 2011

Ilmu pembersih hati
Ada sebait do’a yang pernah diajarkan Rasulullah SAWdan disunnahkan untuk dipanjatkan kepada Allah Azza waJalla  sebelum  seseorang  hendak  belajar.  do’a  tersebutberbunyi : Allaahummanfa’nii bimaa allamtanii wa’allimniimaa yanfa’uni wa zidnii ilman maa yanfa’unii. dengan do’aini seorang hamba berharap dikaruniai oleh-Nya ilmu yangbermamfaat.Apakah  hakikat  ilmu  yang  bermamfaat  itu?  Secarasyariat, suatu ilmu disebut bermamfaat apabila mengandungmashlahat  -  memiliki  nilai-nilai kebaikan  bagi  sesamamanusia ataupun alam. Akan tetapi, mamfaat tersebut menjadikecil artinya bila ternyata tidak membuat pemiliknya semakinmerasakan kedekatan kepada Dzat Maha Pemberi Ilmu, AllahAzza wa Jalla. Dengan ilmunya ia mungkin meningkat derajatkemuliaannya di mata manusia, tetapi belum tentu meningkatpula di hadapan-Nya.Oleh karena itu, dalam kacamata ma’rifat, gambaranilmu  yang  bermamfaat  itu  sebagaimana  yang  pernahdiungkapkan oleh seorang ahli hikmah. “Ilmu yang berguna,”ungkapnya, “ialah yang meluas di dalam dada sinar cahayanyadan membuka penutup hati.” seakan memperjelas ungkapanahli hikmah tersebut, Imam Malik bin Anas r.a. berkata,“Yang bernama ilmu itu bukanlah kepandaian atau banyak meriwayatkan  (sesuatu),  melainkan  hanyalah  nuur  yangditurunkan Allah ke dalam hati manusia. Adapun bergunanyailmu itu adalah untuk mendekatkan manusia kepada Allah danmenjauhkannya dari kesombongan diri.”Ilmu itu hakikatnya adalah kalimat-kalimat Allah Azzawa Jalla. Terhadap ilmunya sungguh tidak akan pernah adasatu pun makhluk di jagat raya ini yang bisa mengukur Kemahaluasan-Nya. sesuai dengan firman-Nya, “Katakanlah :Kalau  sekiranya  lautan menjadi  tinta untuk (menuliskan)kalimat-kalimat  Tuhanku,  sungguh  habislah  lautan  itusebelum  habis  (dituliskan)  kalimat-kalimat  Tuhanku,meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).”(QS. Al Kahfi [18] : 109).Adapun ilmu yang dititipkan kepada manusia mungkintidak lebih dari setitik air di tengah samudera luas. Kendatipundemikian, barangsiapa yang dikaruniai ilmu oleh Allah, yangdengan ilmu tersebut semakin bertambah dekat dan kiantakutlah ia kepada-Nya, niscaya “Allah akan meninggikanorang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yangdiberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al Mujadilah[58] : 11). Sungguh janji Allah itu tidak akan pernah melesetsedikit pun!Akan tetapi, walaupun hanya “setetes” ilmu Allah yangdititipkan kepada mnusia, namun sangat banyak ragamnya.ilmu itu baik kita kaji sepanjang membuat kita semakin takutkepada Allah. Inilah ilmu yang paling berkah yang harus kitacari. sepanjang kita menuntut ilmu itu jelas (benar) niatmaupun caranya, niscaya kita akan mendapatkan mamfaatdarinya.Hal  lain yang hendaknya  kita kaji  dengan seksamaadalah bagaimana caranya agar kita dapat memperoleh ilmuyang sinar cahayanya dapat meluas di dalam dada serta dapatmembuka penutup hati? Imam Syafii ketika masih menuntutilmu,  pernah  mengeluh  kepada  gurunya.  “Wahai,  Guru.Mengapa  ilmu  yang  sedang  kukaji  ini  susah  sekalimemahaminya dan bahkan cepat lupa?” Sang guru menjawab,“Ilmu itu ibarat cahaya. Ia hanya dapat menerangi gelas yangbening dan bersih.” Artinya, ilmu itu tidak akan menerangihati yang keruh dan banyak maksiatnya.Karenanya, jangan heran kalau kita dapati ada orangyang rajin mendatangi majelis-majelis ta’lim dan pengajian,tetapi  akhlak  dan  perilakunya  tetap  buruk.  Mengapademikian? itu dikarenakan hatinya tidak dapat terterangi olehilmu. Laksana air kopi yang kental dalam gelas yang kotor.Kendati diterangi dengan cahaya sekuat apapun, sinarnyatidak akan bisa menembus dan menerangi isi gelas. Begitulahkalau kita sudah tamak dan rakus kepada dunia serta gemar maksiat, maka sang ilmu tidak akan pernah menerangi hati.Padahal kalau hati kita bersih, ia ibarat gelas yang bersih diisidengan air yang bening. Setitik cahaya pun akan mampumenerangi seisi gelas. Walhasil, bila kita menginginkan ilmuyang bisa menjadi ladang amal shalih, maka usahakanlahketika menimbanya, hati kita selalu dalam keadaan bersih. hatiyang bersih adalah hati yang terbebas dari ketamakan terhadapurusan dunia dan tidak pernah digunakan untuk menzhalimisesama. Semakin hati bersih, kita akan semakin dipekakanoleh Allah untuk bisa mendapatkan ilmu yang bermamfaat.darimana pun ilmu itu datangnya. Disamping itu, kita punakan diberi kesanggupan untuk menolak segala sesuatu yangakan membawa mudharat.Sebaik-baik ilmu adalah yang bisa membuat hati kitabercahaya.  Karenanya,  kita  wajib  menuntut  ilmu  sekuat-kuatnya yang membuat hati kita menjadi bersih, sehinggailmu-ilmu yang lain (yang telah ada dalam diri kita) menjadibermamfaat.Bila mendapat air yang kita timba dari sumur tampak keruh,kita akan mencari tawas (kaporit) untuk menjernihkannya.Demikian pun dalam mencari ilmu. Kita harus mencari ilmuyang  bisa  menjadi  “tawas”-nya  supaya  kalau  hati  sudahbening, ilmu-ilmu lain yang kita kaji bisa diserap serayamembawa mamfaat.Mengapa demikian? Sebab dalam mengkaji ilmu apapunkalau kita sebagai penampungnya dalam keadaan kotor dankeruh, maka tidak bisa tidak ilmu yang didapatkan hanya akanmenjadi alat pemuas nafsu belaka. Sibuk mengkaji ilmu fikih,hanya  akan  membuat  kita  ingin  menang  sendiri,  gemar menyalahkan pendapat orang lain, sekaligus aniaya dan sukamenyakiti hati sesama. Demikian juga bila mendalami ilmuma’rifat. Sekiranya dalam keadan hati busuk, jangan herankalau hanya membuat diri kita takabur, merasa diri palingshalih, dan menganggap orang lain sesat.Oleh  karena  itu,  tampaknya  menjadi  fardhu  ainhukumnya untuk mengkaji ilmu kesucian hati dalam rangkama’rifat, mengenal Allah. Datangilah majelis pengajian yangdi dalamnya kita dibimbing untuk riyadhah, berlatih mengenaldan berdekat-dekat dengan Allah Azza wa Jalla. Kita selaludibimbing  untuk  banyak  berdzikir,  mengingat  Allah  danmengenal  kebesaran-Nya,  sehingga  sadar  betapa  teramatkecilnya kita ini di hadapan-Nya.Kita lahir ke dunia tidak membawa apa-apa dan biladatang  saat  ajal  pun  pastilah  tidak  membawa  apa-apa.Mengapa harus ujub, riya, takabur, dan sum’ah. Merasa diribesar, sedangkan yang lain kecil. Merasa diri lebih pintar sedangkan  yang  lain  bodoh.  Itu  semua  hanya  karenasepersekian  dari  setetes  ilmu  yang  kita  miliki?  Padahal,bukankah ilmu yang kita miliki pada hakikatnya adalah titipanAllah  jua,  yang  sama  sekali  tidak  sulit  bagi-Nya  untuk mengambilnya kembali dari kita?Subhanallaah! Mudah-mudahan kita dimudahkan oleh-Nyauntuk mendapatkan ilmu yang bisa menjadi penerang dalamkegelapan dan menjadi jalan untuk dapat lebih bertaqarubkepada-Nya.***

0 komentar:

Posting Komentar

About This Blog

  © Blogger template Werd by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP